Tampilkan postingan dengan label ilmu. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label ilmu. Tampilkan semua postingan

Senin, 09 Februari 2009

Surat Untuk Wanita Suci

Wanita suci…

Mungkin aku memang tak romantis. Tapi siapa peduli, karena toh kau tak mengenalku dan tak perlu mengenalku.... Bagiku kau memang bukan bunga. Tak mampu kusamakan kau dengan bunga-bunga terindah dan terharum sekalipun. Bagiku manusia adalah mahluk terindah, tersuci, dan tertinggi. Bagiku kau salah satu mahluk terindah, tersuci, dan tertinggi, karenanya kau tak membutuhkan persamaan...


Wanita suci…

Janga pernah kau biarkan aku menatapmu penuh. Karena itu akan mambuatku mengingatmu. Berarti memenuhi kepalaku dengan menginginkanmu. Berimbas pada tersusunnya gambarmu pada dinding khayalku. Membuat inginku sepenuh hati, sepenuh jiwa, sesemangat mentari. Kasihanilah dirimu harus hadir dalam khayalku yang masih penuh lumpur, dirimu terlalu suci.

Wanita suci…

Berdua manghabiskan waktu denganmu, bagai mimpi tak berujung. Ada ingin tapi tak ada henti. Menyentuhmu merupakan ingin diri, berkelebat selalu. Meski ujung penutupmu pun tak berani ku sentuh. Jangan pernah kalah dengan mimpi dan inginku karena sucimu, indahmu kau pertaruhkan. Mungkin kau tak peduli, tapi kau hanya akan menjadi wanita biasa dihadapanku bila kau kalah. Tak lebih dari wanita biasa.

Wanita suci…

Jangan pernah kau tatapku penuh. Bahkan kau tak perlu lirikan matamu untuk melihatku. Bukan karena aku terlalu indah, tetapi karena aku seorang manipulator. Aku bisa memakaikan topeng keindahan pada wajah burukku, mengenakan pakaian sutera emas. Meniru laku para rahib, meski hatiku lebih kotor dari kubangan Lumpur. Kau memang suci, tapi masih sangat mungkin termanipulasi. Karena toh kau hanya manusia -hanya wanita- meskipun kau wanita suci.


Wanita suci…

Beri sepenuh diri pada dia sang lelaki suci yang dengan sepenuh hati bawamu pada Allah, untuknya dirimu ada, itu kata otakku, terukir dalam kitab suci, tak perlu pikir lagi. Tunggu sang lelaki suci menjemputmu dalam rangkaian khitbah dan akad. Atau kejar sang lelaki suci, itu adalah hakmu seperti dicontohkan ibunda Khadijah. Jangan ada ragu, jangan ada malu, semua terukir dalam kitab suci.

Wanita suci…

Bariskan harapanmu pada istikharah sepenuh arti ikhlas. Relakan Allah pilihkan lelaki suci bagimu, mungkin sekarang atau nanti. Bahkan mungkin tak ada sampai kau mati. Mungkin itu berarti kau terlalu suci untuk semua lelaki di alam permainan saat ini. Mungkin lelaki suci itu menanti di istana kekalmu yang kau bangun dengan seluruh kekhusuan ibadah.

Wanita suci…

Pilihan Allah tak selalu seindah inginmu. Tapi itulah pilihanNya. Tak ada yang lebih baik dari pilihanNya. Mungkin kebaikan bukan pada lelaki terpilih itu, malainkan ada pada jalan yang kau pilih, seperti kisah seorang wanita suci di masa lalu yang meminta keislaman sebagai mahar. Atau kebaikan itu terletak pada keikhlasanmu menerima keputusan Sang Kekasih Tertinggi. Kekasih tempat kita (seharusnya) memberikan semua cinta yang tak terhingga dalam detik hidup kita.

* * *

Surat ini dibuat oleh ikhwan kepada smua wanita suci di dunia sebagai Taushiah…

Sabtu, 31 Januari 2009

Relativitas Waktu

Kini, relativitas waktu adalah fakta yang terbukti secara ilmiah. Hal ini telah diungkapkan melalui teori relativitas waktu Einstein di tahun-tahun awal abad ke-20. Sebelumnya, manusia belumlah mengetahui bahwa waktu adalah sebuah konsep yang relatif, dan waktu dapat berubah tergantung keadaannya. Ilmuwan besar, Albert Einstein, secara terbuka membuktikan fakta ini dengan teori relativitas. Ia menjelaskan bahwa waktu ditentukan oleh massa dan kecepatan. Dalam sejarah manusia, tak seorang pun mampu mengungkapkan fakta ini dengan jelas sebelumnya.
Tapi ada perkecualian; Al Qur'an telah berisi informasi tentang waktu yang bersifat relatif! Sejumlah ayat yang mengulas hal ini berbunyi:
"Dan mereka meminta kepadamu agar azab itu disegerakan, padahal Allah sekali-kali tidak akan menyalahi janji-Nya. Sesungguhnya sehari di sisi Tuhanmu adalah seperti seribu menurut perhitunganmu." (Al Qur'an, 22:47)
"Dia mengatur urusan dari langit ke bumi, kemudian (urusan) itu naik kepada-Nya dalam satu hari yang kadarnya adalah seribu tahun menurut perhitunganmu." (Al Qur'an, 32:5)
"Malaikat-malaikat dan Jibril naik (menghadap) kepada Tuhan dalam sehari yang kadarnya limapuluh ribu tahun." (Al Qur'an, 70:4)
Dalam sejumlah ayat disebutkan bahwa manusia merasakan waktu secara berbeda, dan bahwa terkadang manusia dapat merasakan waktu sangat singkat sebagai sesuatu yang lama:
"Allah bertanya: 'Berapa tahunkah lamanya kamu tinggal di bumi?' Mereka menjawab: 'Kami tinggal (di bumi) sehari atau setengah hari, maka tanyakanlah kepada orang-orang yang menghitung.' Allah berfirman: 'Kamu tidak tinggal (di bumi) melainkan sebentar saja, kalau kamu sesungguhnya mengetahui'." (Al Qur'an, 23:122-114)
Fakta bahwa relativitas waktu disebutkan dengan sangat jelas dalam Al Qur'an, yang mulai diturunkan pada tahun 610 M, adalah bukti lain bahwa Al Qur'an adalah Kitab Suci.

(www.keajaibanalquran.com)